Home » » Stategi Pembelajaran Mufrodat

Stategi Pembelajaran Mufrodat

Written By Machsun Rifauddin on Minggu, 24 Februari 2013 | 09.23

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisisi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakuan proses balajar,pada tahap berikutnya adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehsdu pan manusia, baik dalam ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan. Oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan IPTEK tersebut perlu adanya penyesuaian-penyesuaian, teritama sekali yang berkaitan dengan factor-faktor pengajaran di sekolah. salah satu faktor tersebut adalah media pembelajaran yang perlu dipelajari dan dikuasai guru, sehingga para guru dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara baik.
Media memiliki dampak yang positif dan sinergi yang mampu merubah sikap dan tingkah laku siswa kearah perubahan yang kreatif dan dinamis. Peran media sangat dibutuhkan dalam pembelajaran dimana dalam perkembangannya saat sekarang media bukan hanya alat bantu tetapi merupakan bagian yang integral dalam sistem pendidikan dan pembelajaran.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa media pembelajaran sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan strategi yang menunjang guna dapat melancarkan pembelajaran, dan media pembelajaran merupakan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Oleh kerna itu, dapat kita mengerti bahwa dalam kegiatan belajar mengajar,untuk mencapai hasil dan tujuan yang diinginkan tanggung jawab tidak hanya di bebankan pada seorang guru bagaimana harus mengatur atau mengelola kelas dan bagaimana memilih metode yang relefan dengan bahan  ajar. Namun tanggung jawab tersebut juga harus dibebankan pada siswa. Para siswa harus memiliki keaktifan dan motivasi yang tinggi untuk belajar begitu dilakukan bai itu didalnm kelas atau diluar kelas.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian, tujuan, dan manfaat mufrodat?
2.    Bagaimana prinsip-prinsip pemilihan mufrodat itu?
3.    Bagaimana strategi pembelajaran mufrodat?
C.       Tujuan Pembahasan
1.        Untuk mengetahui pengertian, tujuan, dan manfaat mufrodat
2.        Untuk mengetahui prinsip-prinsip pemilihan mufrodat
3.        Untuk mengetahui strategi pembelajaran mufrodat
 


BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian, Tujuan dan Fungsi  Kosakata (al-Mufradat)
1.    Pengertian Kosakata (al-Mufradat)
Kosakata (Inggris: vocabulary) adalah himpunan kata atau khazanah kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu1. Kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut dan kemungkinan akan digunakannya untuk menyusun kalimat baru.2 Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan gambaran dari intelejensia atau tingkatpendidikannya.
Menurut Horn, kosakata adalah sekumpulan kata yang membentuk sebuah bahasa. Peran kosakata dalam menguasai empat kemahiran berbahasa sangat diperlukan sebagaimana yang dinyatakan Vallet adalah bahwa kemampuan untuk memahami empat kemahiran berbahasa tersebut sangat bergantung pada penguasaan kosakata seseorang.3 Meskipun demikian pembelajaran bahasa tidak identik dengan hanya mempelajari kosakata. Dalam arti untuk memiliki kemahiran berbahasa tidak cukup hanya dengan menghafal sekian banyak kosakata.
Kosakata merupakan kumpulan kata-kata tertentu yang akan membentuk bahasa. Kata adalah bagian terkecil dari bahasa yang sifatnya bebas. Pengertian ini membedakan antara kata dengan morfem. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang tidak bisa dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil yang maknanya relative stabil.5 Maka kata terdiri dari morfem-morfem, misalnya kata mu’allim ( معلم ) dalam bahasa Arab terdiri dari satu morfem. Sedangkan kata al-mu’allim (المعلم ) mempunyai dua morfem yaitu ال dan معلم . Adapun kata yang mempunyai tiga morfem adalah kata yang terbentuk dari morfem-morfem yang mana masing-masing morfem mempunyai arti khusus. Misalnya kata al-mu’allimun ( المعلمون ) yang terdiri dari tiga morfem yaitu ال , معلم dan ون .
Dalam pembelajaran bahasa Arab ada beberapa masalah dalam pembelajaran kosakata yang disebut problematika kosakata (مشكلات صرفية). Hal itu terjadi karena dalam pembelajaran kosakata mencakup didalamnya tema-tema yang kompleks yaitu perubahanderivasi,perubahaninfleksi,katakerja, mufrad, tatsniyah, jama’, ta’nîts, tadzkîr danmakna leksikal dan fungsional Tetapi dalam makalah ini, penulis tidak menjelaskan satu persatu dari tema-tema tersebut secara detail, hanya sekedar mengemukakan bahwa cakupan pembelajaran kosakata tidak sederhana tetapi cukup luas dan rumit.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kosakata merupakan kumpulan kata-kata yang membentuk bahasa yang diketahui seseorang dan kumpulan kata tersebut akan ia digunakan dalam menyusun kalimat atau berkomunikasi dengan masyarakat. Komunikasi seseorang yang dibangun dengan penggunaan kosakata yang tepat dan memadai menunjukkan gambaran intelejensia dan tingkat pendidikan si pemakai bahasa.

2.    Tujuan Pembelajaran Mufradat
Tujuan umum pembelajaran kosakata (mufrodat) bahasa arab adalah sebagai berikut:
1.        Memperkenalkan kosakata baru kepada siswa atau mahasiswa, baik melalui bahan bacaan maupun fahm al-musmu’.
2.        Melatih siswa atau mahasiswa untuk dapat melafalkan kosakata itu dengan baik dan benar karena pelafalan yang baik dan benar mengantarkan kepada kemahiran berbicara dan membaca secara baik dan benar pula.
3.        Memahami makna kosakata, baik secara denotasi atau leksikal (berdiri sendiri) maupun ketika digunakan dalam konteks kalimat tertentu (makna konotatif dan gramatikal).
4.        Mampu mengapresiasi dan memfungsikan mufradat itu dalam berekspresi lisan (berbicara) maupun tulisan (mengarang) sesuai dengan konteksnya yang benar.

3.    Makna dan Fungsi Kosakata (al-Mufradât)
Kosakata sebagai khazanah kata atau leksikon akan mempunyai fungsi bilamana mempunyai makna. Makna sebuah kata dapat dibedakan menjadi makna denotatif (أصلى) dan makna konotatif (إضافى). Makna denotatif (أصلى) terdiri dari makna hakiki dan makna kiasan, makna asal dan makna istilah. Misalnya kata al-Umm (الأم) dalam bahasa Arab, makna hakikinya adalah “ibu yang melahirkan anak”, sedang makna kiasan terlihat bila kata al-Umm (الأم) digunakan dalam Umm al-Kitâb (أم الكتاب). Makna asal misalnya terdapat kata al-Hâtif (الهاتف) yang berarti “orang yang berbisik”, sedang makna istilah maksudnya adalah “telepon”.
Makna konotatif adalah makna tambahan yang mengandung nuansa atau kesan khusus sebagai akibat dari pengalaman para pemakai bahasa. Menurut Harimurti makna konotatif adalah makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Sebagai contoh, kata al-Umm (الأم) makna konotattifnya adalah kasih sayang atau perlindungan.
Ditinjau dari segi fungsi, kosakata (al-mufradât) dapat dibedakan menjadi dua, antara lain:
1.        Al-Mufradât al-Mu’jamiyah ( (المفردات المعجميةyaitu kosakata yang mempunyai makna dalam kamus seperti kata بيت ، قمر، قلم .
2.        Al-Mufradât al-Wadzîfiyah (المفردات الوظيفية) yaitu kosakata yang mengemban suatu fungsi tertentu, misalnya hurûf al-jar, asmâ al-Isyârah, asmâ al-Maushûl, dlamâir, dan lain-lain yang sejenis dengannya.
Dari dua macam kosakata tersebut, perlu dicatat bahwa diantara Al-Mufradât al-Mu’jamiyahterdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut :
1.        Terdapat beberapa kosakata yang memiliki kemiripan makna, seperti kata رأى , نظر , لاحظ, شاهد (melihat, memandang, memperhatikan dan menyaksikan).
2.        Terdapat beberapa kata yang mempunyai makna denotatif yang sama namun mengandung makna konotattif yang berbeda atau berbeda dalam konteks penggunaanya, seperti kata مات , توفـي yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “mati, meninggal, tewas, wafat atau mampus”.
3.        Kata yang memiliki beberapa makna yang berbeda, seperti kata فصل yang bisa berarti “kelas” ,”musim” atau “pasal” dan “bab”.
Uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan kosakata (al-mufradât) tersebut perlu diperhatikan dan diketahui oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pengajar bahasa khususnya bahasa Arab.

B.       Prinsip-prinsip Pemilihan kosakata (al-mufrodhat)
Dasar atau asas-asas yang menjadi prinsip acuan pemilihan kata atau kosakata dapat diuraiakan sebagai berikut :
1.        Frequency (tawatur), yaitu frekuensi penggunaan kata-kata yang tinggi dan sering itulah yang harus menjadi pilihan.
2.        Range (tawazzu’), yaitu mengutamakan kata-kata yang banyak digunakan baik di negara Arab maupun di negara-negara non Arab atau di suatu negara tertentu yang mana kata-kata itu lebih sering digunakan.
3.        Availability (mataahiyah), mengutamakan kata-kata atau kosakata yang mudah dipelajari dan digunakan dalam berbagai media atau wacana.
4.        Familiarity (ulfah), yakni mendahulukan kata-kata yang sudah dikenal dan cukup familiar didengar, seperti penggunaan kata شَمْسٌ lebih sering digunakan dari pada kata ذٌ كاءٌ , padahal keduanya sama maknanya.
5.        Coverage (syumuul), yakni kemampuan daya cakup suatu kata untuk memiliki beberapa arti, sehingga menjadi luas cakupannya. Misalnya kata يبت lebih luas daya cakupannya dari pada kata منـزل .
6.        Significance (ahammiyah), yakni mengutamakan kata-kata yang memiliki arti yang signifikan untuk menghindari kata-kata umum yang banyak ditinggalkan atau kurang lagi digunakan.
7.        Arabism, yakni mengutamakan kata-kata Arab dari kata-kata serapan yang diarabisasi dari bahasa lain. Misalnya kata الهاتف , المذيـاع, التلفاز secara berurutan ini harus diutamakan pemilihannya dari pada kata التليفون , الراديو dan التلفزيون.

C.      Strategi Pembelajaran Mufrodhat
Methode pembelajaran pada hakikatnya adalah teknik-teknik dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang jenisnya beragama dan pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan. Begitu pula halnya dengan embelajaran bahasa arab khususnya kosakata (al-mufrodhat) ini menuntut adanya metode-metode dasar yang dapat diterapkan tanpa mengharuskan adanya sarana-sarana yang tidak terjangakau oleh lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa arab. Namun bila ada sarana dan media yang memadai tentunya akan lebih baik dan sangat membantu suksesnya methode-methode dan teknik-teknik pembelajaran.
            Dalam pembelajaran kosakata (al-mufrodhat) ada baiknya di mulai dengan kosakata dasar yang tidak mudah berubah, seperti halnya istilah kekerabatan, nama0nama bagian tubuh, kata ganti, kata kerja pokok serta bebrapa kosakata lain yang mudah untuk dipelajari. Method yang bisa digunakan dalam pembelajarannya antara lain yaitu method secara langsung, method meniru dan menghafal, methode aural-oral approach, methode membaca, methode gramatika-translation, methode dengan menggunakan media kartu bergamabar dan alat peraga serta pembelajaran dengan lagu atau menyanyi arab. Teknik yang dapat dilakukan yakni dengan berbagai teknik permaianan bahasa, misalnya dengan perbandingan, memperhatikan susunan huruf, penggunaan kamus dan lainnya.
            Effendi mejelaskan lebih rinci tentang tahapan dan teknik-teknik pembelajaran kosakata (almufrodhat) atau pengalaman siswa dalam mengenal dan memperoleh makna kata, sebagai berikut :
1.        Mendengarkan kata. Ini merupakan tahapan pertama yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan kata-kata yang diucapkan pengajar atau media lain, baik berdiri sendiri maupun didalam kalimat. Apabila unsure bunyi dari kata itu sudah dikuasai oleh siswa, maka untuk selanjutnya siswa akan mampu mendengarkan secara benar.
2.        Mengucapkan kata. Dalam tahap ini, pelajra memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengucapkan kata yang telah didengarnya. Mengucapkan kata baru akan membantu siswa mengingat kata tersebut dalam waktu yang lebih lama.
3.        Mendapatkan makna kata. Pada tahap ini hendaknya pengajar menghindari terjemahan dalam memberikan arti kata kepada siswa, kareba bila hal itu dilakukan maka tidak akan terjadi komunikasi langsung dalam bahasa yang sedang dipelajari, sementara makna kata pun akan cepat dilupakan oleh siswa. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan oleh pengajar untuk menghindari terjemahan dalam memperoleh arti suatu kata, yaitu dengan pemberian konteks kalimat, definisi sederhana, pemakaian foto/gambar, sinonim, antonym, memperlihatakn benda asli atau tiruannya, peragaan gerakan tubuh dan terjemahan sebagai alternative terakhir bila suatu kata memang benar-benar sukar untuk dipahami siswa.
4.        Menbaca kata. Setelah melalui tahap mendengat, mengucapkan dan memahami makna kata-kata, baru pengajar menulisnya di papan tulis. Kemudian siswa diberikan kesempatan membaca kata tersebut dengan suara keras.
5.        Menulis kata. Penguasaan kosakata siswa akan sangat terbantu bilamana ia diminta untuk menulis kata-kata yang baru dipelajarinya (dengar, ucap, paham, baca) mengingat karakteristik kata tersebut masih segar dalam ingatan siswa.
6.        Membuat kalimat. Tahap terakhir dari kegiatan pembelajaran kosakata adalah menggunakan kata-kata baru itu dalam sebuah kalimat yang sempurna, baik secara lisan maupun tulisan. Guru harus kreatif dalam memberikan contoh kalimat-kalimat yang bervariasi dan siswa diminta untuk menirukannya. Dalam menyusun kalimat-kalimat itu hendaknya digunakan kata-kata yang produktif dan actual agar siswa dapat memahami dan memperguankannya sendiri.
7.        Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kosakata di atas tentunya dapat dijadikan acuan para pengajar bahasa arab, walaupun tidak semua kata-kata baru harus dikenalkan dengan prosedur dan langkah-langkah tersebut. Factor alokasi waktu dalam hal ini juga harus diperhitungkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemilihan kata-kata tertentu yang dianggap mudah atau kata-kata yang memang hanya dapat dipahami secra baik dan utuh maknanya bilaman dihubungkan serta disesuaikan dengan konteks wacana.



a.      Strategi Pembelajaran kosakata tingkat dasar ( Mubtadi’)
Strategi pembelajaran kosakata (al-mufrodat) pada tingkat dasar ini pengajar dapan menggunakan beberapa strategi antara lain :
1.      Menggunakan nyanyian atau lagu dalam pembelajaran bahasa Arab, dapat dibedakan antara bernyanyi sambil belajar dan belajar sambil bernyanyi. Penggunaan lagu dalam pembelajaran mufrodat dapat menggunakan kejenuhan belajar, dan dapat memberikan kesenangan kepada pembelajar dapat meningkatkan penguasaan mufrodat atau menambah perbendaharaan mufradat.
2.      Menunjukkan benda yang dimaksud seperti mendatangkan sampelnya atau benda aslinya, contoh : pengajar menunjukkan pensil didepan siswa pada saat belajar menyebutkan kalimat mirsamun, dan menunjukkan bolpoin ketika menyebut kalimat qolamun.
3.      Meminta siswa membaca berulang kali, pengajar bisa meminta siswa membaca kosakata baru yang didapatkan dari sebuah teks berulang kali, sehingga diharapkan dia dapat menemukan artinya setelah merangkai dengan kata yang lain dalam teks yang dibacanya.
4.      Mendengarkan dan menirukan bacaan, dan mengulang-ngulang bacaan serta menulisnya sampai siswa benar-benar paham dan menguasainya.
Penggunaan lagu dalam pembelajaran mufrodat ini bertujuan untuk memotivasi siswa melakukan kegiatan pembelajaran secara lebih baik yang dapat membantu mempermudah peningkatan kecerdasan dan daya pikir kreatif siswa, sedangkan kegiatan penulisan mufrodat ini berhasil meningkatkan ketrampilan menulis siswa dan memberikan kesempatan untuk memperoleh pemahaman mengenai mufrodat yang disajikan, adapun kegiatan menirukan bacaan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berbicara, dan kegiatan merespon mufrodat yang diucapkan dapat mengembangkan segi afektif dalam berkomunikasi dan memberikan kesempatan untuk menyimak secara baik.
b.      Strategi pembelajaran kosakata tingkat Menengah ( mutawassid )
Strategi pembelajaran kosakata (al-mufrodat) pada tingkat menengah ini pengajar dapat menggunakan beberapa strategi, antara lain:
1.      Menggunakan peragaan tubuh
Guru dapat menunjukkan makana kosakata yang hendak diajarkan dengan memperagakan, seperti pengajar memperagakan orang yang sedang makan , yang menjelaskan kata akala yang mempeunyai arti sedang makan .
2.      Menulis kata-kata
Penguasaan siswa terhadapa kosakata akan sangat terbantu bilaman ia diminta untuk menulis kata-kata yang baru dipelajarinya (dengar, ucap, paham,baca) mengingat kaarasteriktik kata tersebut masih segar dalam ingatan siswa.
3.      Dengan bermain peran
Seperti mengajar memerankan orang sakit yang memegangi perut dan dokter memeriksanya. Bentuk bermain drama ini biasanya dilaksanakan dengan bermain drama ( masrohiyah ).
4.      Memberikan padanan kata (sinonim)
Gurur dapat memberikan kata yang mempunyai makna sama tapi mempunyai makna sama, tetapi menggunakan kosakata yang berbeda, seperti (waktu) pengajar memberikan kata qo’ada pengajar dapat menyebutkan sinonimnya yaitu Jalasa.
5.      Member lawan kata atau antonym
Guru dapat memberikan kata yang maknanya berlawanan dengan kosa kata yang hendak diajarkan, seperti pengajar dapat menjelaskan thawil dengan menyebutkan lawan katanya qoshir.
6.      Memberikan asosiasi makna
Guru dapat menjelaskan kata madrasah dengan memberikan asosiasi dengan menyebutkan kata-kata seperti: tholib, mudarris, sabburah, dll. Sehingga pikiran siswa akan tertuju pada satu kata yaitu sekolah.
7.      Guru menyebutkan akar kata dan derivasinya (kata yang mengalami perubahan)   Guru dapat menjelaskan kata maktab dengan menggunakan akar katanya berserta derivasinya seperti kataba yaktubu kitabah dst. Hal ini dapat membantu siswa dalam memahami kosa kata sesuai dengan perubahan kalimatnya.
c.       Strategi pembelajaran kosakata tingkat lanjut (mutaqoddim)
     Strategi pembelajaran kosakata (al mufradat) pada tingkat lanjut ini pengajar dapat menggunakan beberapa strategi antara lain:
1.      Menjelaskan makna kata dengan menjelaskan maksudnya.
2.      Mencari makna kata dalam kamus
Ketika mengajarkan kosakata baru, pengajar dapat meminta siswa langsung mencari maknanya dalam kamus.
3.      Mengacak mufradat agar menjadi susunan kata yang benar
4.      Meletakkan kata dalam kalimat
5.      Memilih contoh mufradat yang baik untuk siswa, jangan sampai mengajar mufradat yang mendidik apalagi provokatif seperti dhoroba, qotala, rofasa.
6.      Menyusun kalimat yang benar dari beberapa mufradat yang telah disediakan.
7.      Memberikan harokat kata
8.      Menerjemahkan kosakata kedalam bahasa ibu. Cara ini merupakan jalan terakhir, ketika seluruh cara digunakan tidak mampu member pemahaman siswa. Guru tidak dianjurkan terburu-buru menggnakan cara ini, Karena cara ini berdampak negative terhadap perkembangan kebahasaan siswa seperti malas membuka kamus, berasosiasi dan sebagainya.






III
PPENUTUP


A.      Kesimpulan
Kosakata merupakan kumpulan huruf-huruf yang membentuk bahasa yang diketahui seseorang dan kumpulan huruf tersebut akan digunakan untuk menyusun kalimat atau sebagai alat komunikasi.
Strategi pembelajaran mufrodhat secara umum adalah
a.         Meminta siswa menddengarkan, membaca berungkali dan menulisnya.
b.         Menunjukkan benda atau meragakan secara langsung.
c.         Memberikan antonym ataupun sinonimnya.
d.        Memberikan qiyasan terhadap kosakata yang dimaksud.
e.         Memberikan cara dengan sekreatif mungkin dalam mengajarkan mufrodhat.
Mengajarkan kosakata terhadap siswa sudah sangat popular digunakan guru pada setiap pengajarannya dengan berbagai kekreatifannya,  maka media apapun yang digunakan oleh guru yang mau berinovasi pasti akan slalu menarik dan memberikan banyak motivasi siswa.



DAFTAR PUSTAKA


Mustofa, Syaiful. 2011. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif, Cetakan         pertama. Malang: UIN Press.
Makalah, 2008. Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa Arab Oleh Kasmawati dalam manadochantiq.piles.wordpress.com.
Taufiqurrohman. 2009. Belajar Bahasa Arab Melalui Lagu. Html di akses pada 12 Oktober 2010.
Degeng, in.  1997. Strategi Pembelajaran: mengorganisasikan isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP Malang.
Gulo, w. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.





0 komentar :

Comment

Machsun Rifauddin

Machsun Rifauddin

Popular Posts