300x250 AD TOP

Minggu, 24 Februari 2013

Tagged under:

Hadits Dilihat dari Segi Kualitasnya


Hadits Dilihat dari Segi Kualitasnya
1. Hadits maqbul yaitu : ma'khud (yang diambil) dan mushoddaq (yang dibenarkan atau diterima). Sedangkan menurut istilah adalah : "Hadits yang telah sempurna padanya, syarat-syarat penerimaan". yaitu sanad-nya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang 'adil lagi dhabit, dan juga berkaitan dengan matan-nya tidak syadz dan tidak berillat.
A. Hadis Shahih
1. Pengertian dan syarat-syarat hadits shahih
      Ibnu shalah mengemukakan definisi hadis shahih, yaitu:
      “Hadis shahih ialah hadis yang sanadnya bersambungan melalui periwayatan orang yang adil lagi dhabit dari orang yang adil lagi dhabit pula, sampai ujungnya, tidak syaz dan tidak mu’allal (terkena illat)[1]
      Shubhi Shalih juga memberikan rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam melihat keshahihan sebuah hadis, yaitu:
a.    Hadis tersebut shahih musnad, yakni sanadnya bersambung sampai yang teratas.
b.   Hadis shahih bukanlah hadis yang syaz yaitu rawi yang meriwayatkan memang terpercaya , akan tetapi ia menyalahi rawi-rawi yang lain yang lebih tinggi.
c.    Hadis shahih bukan hadis yang terkena ‘illat. Illatialah: sifat tersembunyi yang mengakibatkan hadis tersebut cacat dalam penerimaannya, kendati secara zahirnya terhindar dari illat.
d.   Seluruh tokoh sanad hadis shahih itu adil dan cermat[2]
2. Pembagian Hadis Shahih
       Para ulama hadis membagi hadis shahih menjadi dua macam:
a. Shahih li Dzatihi, yaitu hadis yang mencakup semua syarat-syarat atau sifat-sifat hadismaqbul secara sempurna, dinamakan “shahih li Dzatihi.
Hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah diatas, adalah salah satu hadis shahih yang tidak terdapat ke-syaz-an maupun illat.
b. Shahih li ghairihi, yaitu hadis hasan li dzatihi(tidak memenuhi secara sempurna syarat-syarat tertinggi hadis maqbul
Hadis tersebut dinilai oleh muhaddisin sebagai hadis shahih li ghairihi sebagaimana dijelaskan diatas. Pada sanad hadis tersebut, terdapat Muhammad bin ‘Amr yang dikenal orang jujur, akan tetapi kedhabitannya kurang sempurna, sehingga hadis riwayatnya hanya sampai ke tingkat hasan.
3. syarat-syarat hadis sahih adalah :
  1. Sanadnya bersambung
  1. Perawinya 'adil
  1. Perawinya Dhabit
  1. Tidak Syadz (janggal)
  1. Tidak ber-illat (ghairu al-Mu'allal)
3. kehujjahan
Tidak terdapat perbedaan ulama tentang kehujjahannya terutama dalam masalah penentuan hukum sesuatu.
4Kitab-kitab yang memuat Hadis Shahih.
     Nuruddin ‘Itr didalam kitabnya Manhaj an-Naqd Fi ‘Ulum al-Hadismengemukakan bahwa kitab-kitab yang memuat hadis-hadis shahih antara lain[5]:
a.   al-Muwattha’                                                                                     
b.  Shahih Bukhari                      
c.   Shahih Muslim
d.  Shahih Ibn Khuzaimah
e.   Shahih Ibn Hibban
f.   Al-Mukhtarah[6]



B. Hadis Hasan
1.  Pengertian Hadis Hasan
      Hadis  hasan  ialah hadis yang sanadnya bersambung, oleh penukil yang ‘adil namun kurang ke-dhabit-annya (tidak terlalu kuat ingatannya)  serta terhindar dari Syaz dan illat.[7] Kriteria hadis ini:
a.       Sanad hadis harus bersambung.
b.      Perawinya adil
c.       Perawinya mempunyai sifat dhabit, namun kualitasnya lebih rendah dari perawi hadis shahih
d.      Hadis yang diriwayatkan tersebut tidak syaz
e.       Hadis yang diriwayatkan terhindar dari illat yang merusak (qadihah)[8]
2. Pembagian Hadis Hasan
a.  Hadis hasan li dzatihi
      Hadis hasan li dzatihi adalah hadis yang dengan sendirinya telah memenuhi kriteria hadis hasan sebagaimana tersebut diatas, dan tidak memerlukan riwayat lain untuk mengangkatnya ke derajat hasan.
b.  Hadis hasan li ghairihi
      Hadis hasan li ghairihi adalah hadis dha’if apabila jalan (datang)-nya berbilang (lebih dari satu), dan sebab-sebab kedha’ifannya bukan karena perawinya fasik atau pendusta.[9]
3. Kitab-kitab Yang Memuat Hadis Hasan
        Diantara kitab-kitab yang memuat hadis hasan adalah[10]:
a. Sunan at-Tirmidzy
b.Sunan Abu Daud
c. Sunan ad-Dar Quthny

2. Hadits mardud yaitu : Mardud menuru bahasa berarti yang ditolak atau yang tidak diterima. Sedangkan mardud menurut istilah ialah : "Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat atau sebagian syarat hadits maqbul".Bisa pada sanad atau matannya. Para ulama' membagi hadits jenis ini menjadi dua yaitu hadits dha'if dan hadits maudhu'.
A. Hadis Dhaif
1.  Pengertian dan Pembagian Hadis Dha’if
       Dha’if menurut bahasa adalah lawan dari kuat(lemah)
       Hadis dhaif menurut istilah adalah “hadis yang didalamnya tidak didapati syarat hadis shahih dan tidak pula didapati syarat hadis hasan.”[11]
a. Dhaif disebabkan karena tidak memenuhi syarat bersambungnya Sanad. Dhaif jenis ini di bagi lagi menjadi :
      1) Hadis Mu’allaq
Hadis mu’allaq yaitu hadis yang pada sanadnya telah dibuang satu atau lebih rawi baik secara berurutan maupun tidak. Contoh:
قال ألبخارى قالت العائشة كان النبى يذكر الله على كل أحواله
Disini Bukhari tidak menyebutkan rawi sebelum Aisyah
2) Hadis Mursal
Hadis mursal menurut istilah adalah hadis yang gugur perawi dari sanadnya setelah tabi’in, seperti bila seorang tabi’in mengatakan,”Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda begini atau berbuat seperti ini”[12]. Contoh hadits ini adalah:
قال مالك عن جعفر بن محمد عن أبيه أن رسول الله قضى باليمن والشاهد
Disini Muhammad bin Ali Zainul Abidin tidak menyebutkan sahabat yang menjadi perantara antara nabi dan bapaknya.
3) Hadis Munqathi'
Hadis munqathi’ menurut istilah para ulama hadismutaqaddimin sebagai “hadis yang sanadnya tidak bersambung dari semua sisi”. Sedangkan menurut para ulama hadis mutaakhkhirin adalah ”suatu hadis yang ditengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi tetapi tidak berturut-turut” [13]
Contoh hadits ini adalah;
ما رواه عبد الرزاق عن الثورى عن أبى إسحاق عن زيد بن يثيع عن حذيفه مرفوعا إن وليتموها أبا بكر فقوى أمين
4) Hadis Mu'dhal
Hadis mu’dhal menurut istilah adalah “ hadis yang gugur pada sanadnya dua atau lebih secara berurutan.”[14].
Contohnya :
للمملوك طعامه وكسوته بالمعروف ، لا يُكلّف من العمل إلا ما يُطيق "
5) Hadis Mudallas
Yaitu hadits yang diriwayatkan dengan menghilangkan rawi diatasnya. Tadlis sendiri dibagi menjadi beberapa macam;
a. Tadlis Isnad,
b. Tadlis qath’i 
c. Tadlis ‘Athaf 
d. Tadlis Taswiyah 
e. Tadlis Syuyukh
f. Tadlis bilad 
b.Dhaif karena terdapat cacat pada perawinya
            Sebab-sebab cela pada perawi yang berkaitan dengan ke’adalahan perawi ada lima, dan yang berkaitan dengan kedhabithannya juga ada lima.
1. Adapun yang berkaitan dengan ke’adalahannya, yaitu: a) Dusta, b) Tuduhan,c)  berdusta, d) Fasik, e) bid’ah, f) al-Jahalah(ketidakjelasan
2. Adapun yang berkaitan dengan ke’adalahannya, yaitu: a) kesalahan yang, sangat buruk, b) Buruk hafalan, c) Kelalaian, d) Banyaknya waham, e) menyelisihi para perawi yang tsiqah
Dan berikut ini macam-macam hadis yang dikarenakan sebab-sebab diatas:
1) Hadis Maudhu'
Hadis maudhu’ adalah hadis kontroversial yang di buat seseorang dengan tidak mempunyai dasar sama sekali. Menurut Subhi Shalih adalahkhabar yang di buat oleh pembohong kemudian dinisbatkan kepada Nabi.karena disebabkan oleh faktor kepentingan.[15] Contohnya:
قيل يارسول الله لم سمي رجب قال لأنه يترجب فيه خير كثبر
2) Hadis Matruk
       Hadis matruk adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang disangka suka berdusta.[16] Contoh :
قال النبي عليكم باصطناع المعروف فانه يمنع مصارع السوء ... الخ
Menurut an Nasa'i dan Daruqutni, Juwaibir adalah orang yang tidak dianggap hadisnya.
3) Hadis Munkar
Hadis yang diriwatkan oleh perawi yang dhaif, yang menyalahi orang kepercayaan.[17] 
4) Hadis Majhul
a. Majhul 'aini : hanya diketahui seorang saja tanpa tahu jarh dan ta'dilnya.Contoh:
ان النبي كان اذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيده. اخرجه ابي داود
Hanyalah Ibn Luhai'ah yang meriwayatkan hadis dari Hafs ibn Hasyim ibn 'utbah ibn Abi Waqas tanpa diketahui jarh dan ta'dilnya.
b.   Majhul hali : diketahui lebih adari satu orang namun tidak diketahui jarh dan ta'dilnya.contoh hadis ini adalah hadisnya Qasim ibn Walid dari Yazid ibn Madkur.
ان عليا رضي الله عنه رجم لوطيا. اخرجه البيهقى
5) Hadis Mubham
 Hadis mubham yaitu hadis yang tidak menyebutkan nama orang dalam rangkaiansanad-nya, baik lelaki maupun perempuan.[18]Contohnya adalah hadis Hujaj ibn Furadhah:
قال رسو ل الله المؤمن غر كريم والفاجر خب لئيمز اخرجه ابو داود
6) Hadis Syadz
Hadis syadz yaitu hadis yang beretentangan dengan hadis lain yang riwayatnya lebih kuat[19].
7) Hadis maqlub
Yaitu memutar balikkan (mendahulukan) kata, kalimat, atau nama yang seharusnya ditulis di belakang, dan mengakhirkan kata, kalimat atau nama yang seharusnya didahulukan.
8) Hadis mudraj
                Secara terminologis hadits mudraj ialah yang didalamnya terdapat sisipan atau tambahan, baik pada matan atau pada sanad.
9) Hadis mushahaf
           Hadits mushahaf ialah yang terdapat perbedaan dengan hadis yang diriwayatka orang kepercayaan,
 karena di dalamnya terdapat beberapa huruf yang di ubah.
2. Pengamalan Hadits Dha’if
 mengenai hal ini ada tiga pendapat ulama:
1.      Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadhail a’mal maupun ahkam.
2.      Hadis dhaif bisa digunakan secara mutlak, hadis dhaif lebih kuat dari ra’yu perorangan
3.      Sebagian ulama berpendapat bahwa Hadis dhaif bisa digunakan dalam masalah fadhail mawa’iz atau yang sejenis bila memenuhi beberapa syarat
3. Kitab-kitab Yang diduga Mengandung Hadis Dhaif.
1.      Ketiga Mu’jam at-Thabrani: al-Kabir, al-Awsat, as-Shagir
2.      Kitab al-Afrad, karya ad-Daruquthny
3.      Kumpulan karya al-Khatib al-baghdadi
4.      Kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, karya abu Nu’aim al-Asbahani.

DAFTAR PURSTAKA

[1] Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul Hadis Ulumuhu wamusthalahatuhu (Beirut: Dar al-Fikr,
1975), h. 304
            [2] Subhi Shalih, Ulumul Hadis Wamustalahatuhu, (Beirut; Dar al‘Ilm, 1988), h. 145-146
            [3] Ahmad Umar Hasyim, Taysir Musthalah al-Hadis (t.d) h. 24
            [4] Taufiq Umar Sayyidi, Manhaj ad-Dirayah wa Mizan ar-Riwayah (t.d)h. 5   
[5] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd Fi ‘Ulum al-Hadis(Damaskus:Dar al-Fikr) yang diterjemahkan
oleh Mujiyo, ‘Ulum al-Hadis(Bandung: Remaja Rosda Karya, Cet.II, 1997)h. 12
[6] Kitab “al-Muktarah disusun oleh al-Hafidz Dhiya’uddin Muhammad ibn Abdul Wahid al-
Maqdisi.
            [7] Subhi Shalih, op. cit., h. 156
            [8] Nawir Yuslem, Ulumul hadis,(t.t, Mutiara sumber Widya, 2001) h. 230
            [9] Ibid., h. 230
            [10] Manna’ Khalil al-Qatthan, op.cit., h. 123
            [11Ibid., h. 129
            [12] Manna’ Khalil al-Qatthan, op. cit., h. 134
            [13] Manna’ Khalil al-Qatthan, op.cit., h. 138
            [14ibid., h. 136-137
            [15] Shubhi Shailih, op. cit., h. 263
            [16] Hasby as-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis,(Jakarta: PT.Bulan Bintang,1987) h. 262
            [17Ibid.,  h. 264
            [18Ibid., h. 300
            [34] Ibid., h. 268

0 komentar: